Senin, 04 Januari 2010

Memberi arti pada bekas kehadiran kita


Putri saya pulang ke kota kelahirannya untuk mengumpulkan data bagi tugas akhirnya di sebuah Sekolah Tinggi di luar daerah. Dia memilih Daerah Wisata Bukit Bangkirai sebagai objek penelitiannya. Tempat itu berada sekitar 50 km dari kota Balikpapan. Maka pergilah kami beramai ramai. Saya,bapaknya dan 2 adiknya. Refreshing bagi saya yang sudah jenuh dengan urusan dapur, kasur dan pupur (bedak maksudnya), maklum sudah lama saya tidak pergi berwisata. Kawasan Bukit Bangkirai sangat luas, sehingga tidak mungkin bagi pengunjung untuk bisa menjelajahinya dalam waktu singkat, apalagi hanya seharian. Jadi kami hanya berkeliling di sekitar cottages dan canopy bridge.

Sementara anak sulung saya mengumpulkan data dari orang orang yang berkompeten disana, kami dengan diantar oleh 2 orang guide (selanjutnya saya akan menyebut mereka gaid saja) berkeliling. Pertama kami melewati sebuah bangunan yang bertuliskan Laboratorium Tanaman, saya mengintip ke dalam dari jendela kaca dan melihat tidak ada aktivitas apapun di dalam, padahal hari itu hari senin. Kata si gaid biasanya ada beberapa orang mahasiswa dari Institute di Bandung dan beberapa orang juga dari sebuah universitas di Yogyakarta yang beraktivitas di sana. Berjalan beberapa puluh meter kemudian kami melihat sebuah bak air dengan suara gemuruh airnya, rupanya tempat pengolahan air bersih untuk kepentingan kawasan itu. Ada juga beberapa barak yang kelihatannya ditempati para mahasiswa tadi. Kami juga melewati sebuah kawasan dengan rak-rak tanaman yang masing-masing rak ditulisi nama jenis pohon yang dibibitkan atau dikembang -biakkan di situ. Sebuah papan nama bertuliskan Tempat Pembibitan Tanaman. Di sebelah kiri jalan yang kami lewati ada beberapa bangunan kayu dengan alur sungai kecil di depannya.Gemercik air sungai terasa sangat indah di telinga saya, maklum sudah lama saya tidak mendengar suara seperti itu.

Ketika sampai di areal cottages anak-anak saya sudah kelelahan karena sudah sampai waktu makan siang, kami langsung menyerbu mobil yang sudah lebih dahulu dikendarai suami saya ke tempat parkir kawasan cottages. Kami menghabiskan bekal makan siang kami dengan sangat lahap, terasa sangat lain menyantap makan siang di tengah hutan yang sepi dengan udara yang bersih dan segar. Karena hari itu hari senin, maka pengunjung tempat wisata itu hanya kami sekeluarga, serasa hutan itu milik kami sendiri.

Saya memasukkan sisa-sisa makan siang kami ke dalam plastik yang saya siapkan dari rumah, hal mana membuat anak bungsu saya menertawakan saya karena membawa kantong plastik sampah ke hutan. Saya jelaskan pada mereka supaya jangan meninggalkan sampah dimanapun kita berada, kecuali di tempat sampah. Saya katakan bahwa hutan bukan tempat sampah. Ternyata di hutan itu juga ada tempat khusus untuk sampah, sehingga kami meninggalkan sampah kami disana. Kalau tidak saya bermaksud membawa kembali sampah saya ke tempat sampah di kota.

Kami melanjutkan perjalanan kami menuju canopy bridge yang terkenal itu. Sebelumnya kami diarahkan gaid kami untuk memperhatikan pohon-pohon di sekitar kami. Banyak nama latin bagi pohon-pohon itu, beberapa pohon bahkan mempunyai orang tua angkat. Nama orang -orang yang mengadopsi pohon -pohon itu tertera di masing -masing pohon. Selain bangsa Jepang, kami juga melihat ada nama beberapa pejabat Negara kita sebagai bapak angkat dari beberapa pohon di situ. Gaid kami menceritakan tentang sebuah pohon yang bernama pohon Genta, yang mana pada komunitas Dayak berfungsi sebagai alat komunikasi, karena ketika dipukul batang pohon tersebut, suara nyaringnya akan bergema ke segala penjuru hutan, menandakan ada sebuah peristiwa. Adalagi sejenis jamur yang menyala dimalam hari konon karena mengandung sejenis kimia. Kata Gaid kami, Orang Luar Negeri yang mengunjungi Kawasan itu banyak yang membawa anak balita mereka. Mereka tidak lupa membawa anak anak mereka menyusuri hutan di malam hari, hanya untuk mencari jamur itu ataupun mencari asal-muasal sebuah irama yang belum pernah mereka dengar di kampung halaman mereka di New York atau Paris sana, yang ternyata adalah nyanyian sekumpulan jangkrik. Sementara kata sang gaid belum pernah ada orang orang kita yang berani membawa anak -anak mereka berjalan -jalan di hutan malam hari. Saya rasa sang gaid pun tidak pernah melakukan hal itu walaupun tentunya mereka lebih familiar dengan lingkungan tersebut. Untuk itu saya menjadi sangat apresiatif kepada orang -orang Luar Negeri tersebut. Saya juga tidak sampai hati membawa anak-anak saya berkeliaran di hutan malam hari, saya belum mampu.

Bermacam-macam pohon yang belum pernah kami ketahui akhirnya kami kenal di sana. Ada pohon rotan yang merambat di pohon -pohon raksasa, baik pohon Bangkirai, Ulin maupun Keruing dan lain -lain yang biasa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Ada juga pohon Pasak Bumi yang tersohor khasiatnya sebagai obat penambah vitalitas konon katanya dan berjenis -jenis lagi yang susah bagi saya untuk menghafalnya.

Setelah mengadopsi pohon, ternyata lagi- lagi orang Luar Negeri pula yang mempunyai ide dan merealisasikan Canopy Bridge itu. Saya agak kecewa, karena tadinya saya berharap bahwa jembatan pohon yang tersohor itu adalah karya saudara sebangsa saya. Karena saya takut ketinggian, walaupun gaid kami sudah membujuk saya untuk memanjat dan melihat hutan dari ketinggian 30 meter, saya mohon maaf, tidak berani! Anak -anak saya nampak puas ketika sudah mendarat kembali di bumi.

Sayang sekali dalam perjalanan kembali ke areal cottages, saya baru memperhatikan ternyata banyak kaleng-kaleng bekas minuman maupun plastik pembungkus snack berserakan mengurangi keasrian hutan kita. Begitu juga ketika kami mengunjungi toilet di belakang aula di areal penginapan itu. Kami mencium bau menusuk yang bukan aroma kotoran binatang hutan yang memang wajar-wajar saja teronggok di sekitar situ. Saya melongok lebih ke belakang dan menemukan seonggok sisa makanan dalam kardus kardus air mineral, sampah ikan dan plastik-plastik kemasan air minum, balon dan kaleng -kaleng minuman ringan. Tak dapat menahan keingin-tahuan saya tentang perbuatan siapakah membiarkan sampah berserakan begitu, saya tanyakan pada gaid kami, siapa yang habis berpesta? Ternyata serombongan tamu dari sebuah Badan Usaha Milik Negara baru saja mencarter seluruh cottages dan berpesta barbeqeu.

Saya katakan pada anak-anak saya, sudahlah kita ini, terpikirpun tidak untuk mengadopsi sebatang pohon, jangan lagi membawa sampah mengotori hutan. Marilah kita, pada setiap kesempatan selalu berusaha, memberi arti lebih baik pada sisa sisa kehadiran kita.

Kamis, 22 Oktober 2009

6 tahun sekolah di eks Sekolahan China

Saya pertama kali mengenal sekolahan di Samarinda, kelas 1 SD selama kurang lebih 6 bulan di SD jalan Pelabuhan.
Guru-guru yang masih samar-samar saya ingat adalah Engku Sa'al dan Encik Salbiah.Entah kenapa kami harus memanggilnya begitu?
Waktu itu saya sekolah menggunakan alat tulis berupa papan hitam berbingkai kayu dan Grip sebagai pengganti pensil atau kapurnya.Grip entah dibuat dari bahan apa, yang saya ingat, kalau Grip saya hampir habis atau patah, saya akan menyambungnya dengan bambu kecil,supaya masih bisa dipergunakan untuk menulis.
Saat itu kalau tidak salah adalah jaman pembrontakkan Permesta.Ibu saya berpesan pada kami setiap akan diantar dengan becak kami kesekolah, rumah kami berjarak sekitar setengah kilometer dari sekolah.
" Kalau Langkulili( nama supir becak kami)belum datang jemput,kalian jalan kaki pelan-pelan dipinggir jalan,dan kalau ada alrm(sirine) atau pesawat terbang, kalian segera lari ke pos polisi"
Waktu itu sering ada pesawat terbang rendah dan di ikuti oleh Sirine supaya orang-orang segera berlindung.

Bapak saya kemudian dipindah tugaskan ke Balikpapan, dan saya menyambung kelas satu saya di SD Bhayangkari Balikpapan.Ketika Saya naik kelas 2, asrama polisi yang diperuntukkan untuk satuan polisi Airud Balikpapan,selesai dibangun. Kami kemudian pindah dari Asrama polisi Pasar baru menuju Asrama polisi Airud Karang anyar Balikpapan.
Singkat kata saya menyelesaikan Sekolah dasar saya di SD No 49,kawasan Rapak Balikpapan.Lain waktu saya akan menceritakan masa-masa saya jadi anak Rapak dan Rapak tempo dulu.

Saya harus masuk SMP, dan SMP terdekat dengan rumah kami adalah SMP di Kebun sayur.Komplek sekolah saya tersebut sudah tidak kelihatan lagi bekasnya setelah dilahap si jago merah sekitar tahun 80an.Sekarang dilokasi itu berdiri eks Bank Eksim yang sekarang menjadi Bank Mandiri Kebun Sayur.
Komplek sekolah itu, terdiri dari beberapa Unit sekolah lanjutan pertama. Disebelah kiri bangunan adalah Sekolah Tekhnik tingkat pertama negeri,kurang lebih 20 kelas, disebelah kiri adalah Sekolah Menengah Pertama Negeri III, 10 kelas dan dibagian belakang adalah SMP III Filial yang juga 10 lokal, kemudian menjadi SMP negeri IV Balikpapan.Sekolah dengan bangunan 2 lantai yang berdiri kokoh itu, mengeliling lapangan Basket yang cukup luas juga adalah bekas sekolahan China.

Saya melihat ada orang yag mirip teman SMP saya sering muncul gambar dan beritanya di koran lokal sebagai kepala Dinas perindustrian,perdagangan dan koperasi dengan nama yang mirip juga yaitu Irianto. Cuma saja pejabat itu memakai Labrie dibelakang namanya, Entah dia orang yang sama atau bukan.Selain itu juga saya melihat orang yang mirip Syahril mantan anak SMP eks sekolahan china itu wira-wiri di koran lokal sebagai seorang anggota DPRD Balikpapan.mungkin hanya mirip.
Yang jelas, seorang teman saya dari SMP itu bernama Lindon, yang ibunya berjualan sepatu tepat diseberang jalan depan gerbang sekolah kami, sekarang sudah menjadi seorang Pengusaha penerbit terjemahan buku-buku kedokteran dan sangat kaya raya.Dia seorang dokter dari UI dan melanjutkan pelajarannya disebuah Univesitas di Amerika.

Kalau dulu keluarga kami memilihkan sekolah di SMP negeri IV, yang bekas sekolahan China karena paling dekat dengan rumah kami, maka ketika harus masuk sekolah Menengah Atas, kami dari Karang Anyar melewati komplek sekolah Gunung Pasir, karena mencari Sekolah Menengah Ekonomi Negeri yang satu-satunya berada di Jalan bukit niaga Pasar Baru Balikpapan.
Lagi-lagi sekolahan saya itu bekas sekolah China.Kapan-kapan saya akan menceritakan suka-duka saya di Bukit niaga selama tiga tahun yang sampai sekarang masih meninggalkan trauma karena saya selalu sampai dirumah setelah lewat magrib, karena tidak kebagian terangkut taksi jamban.Kami masuk sekolah jam 1 siang dan pulang jam 6 sore.Saya sampai sekarang sering bermimpi tidak mendapat tumpangan dan itu membuat saya terkencing-kencing.

Mungkin karena selama 6 tahun bersekolah dibekas sekolahan China, saya jadi fain-fain saja (maksudnya just fine)
menikah dan masuk dengan mulus dikeluarga suami saya yang orang China.....masak ada hubungannya sih, "lebai" kah?

TV besar alias Bioskop Ria

2 adik bungsu saya yang ketika saya kelas 2 SMP, masih berusia balita adalah 2 gadis kecil yang meramaikan hari-hari dalam keluarga sangat besar kami.
Bayangkan saja, kami satu saudara kandung ada 8 orang ditambah lagi dengan 5 orang saudara sepupu kami yang yatim piatu. Untung saja 2 sepupu yang tertua laki-laki, sudah dewasa dan berkerja, sehingga jarang tinggal dirumah, karena mereka bkerja dipengeboran minyak bumi dilepas pantai kalimantan timur.

Saat itu kira-kira awal tahun 70 an.Siaran televisi baru saja merambah Kalimantan Timur dengan mengadakan siaran percobaan.Isi siaran TVRI Balikpapan biasanya hanya lagu-lagu Pop Indonesia.Penyanyi yang paling kami tunggu saat itu adalah Emilia Contesa, dia yang paling OK.Ada juga penyanyi lain yang rajin diputar oleh TVRI Balikpapan, yaitu Inneke Kusumawati yang ngetop dengan lagu Sepatu Baru,Fenty Effendy,Maya Sopha dan kawan-kawan dibelantika musik pop kemudian Mergie Singer, Rien Jamain dan beberapa lagi di musik Jazz serta Pak Hoegeng dengan Hawaiian Seniornya.

Jadi setiap menjelang magrib kami sudah rapi berjejer duduk didepan televisi 14"layar biru kami yang kakinya "ngangkang".Saya ingat televisi itu adalah hadiah dari seorang kakek jauh kami yang setiap beliau datang tidak menemui kami cucu-cucunya, karena kami selalu berada dirumah tetangga kami yang paling kaya sekomplek, untuk nonton TV.Begitulah kami akhirnya bisa nonoton TV dirumah kami sendiri.

Betapa kami begitu dipengaruhi oleh sisaran-siaran televisi, maklum barang baru bagi kami.Kalau Emillia Contessa bernyanyi dengan penuh ekspresi, ketika dia berkerut-kerut kami menahan nafas dan ikut berkerut dan ketika dia tersenyum maka kamipun ikut tersenyum. Suatu hari Nely adik saya menagis tersedu-sedu karena seorang anak di televisi merebut boneka anak yang lainnya dalam sebuah film keluarga.

Selain TVRI hiburan kami anak-anak dan dewasa disekitar kawasan Karang anyar adalah bioskop Ria.Setiap minggu pagi kami akan berbondong-bondong menuju bioskop untuk menonton film kartun Walt Disney yang saat itu kami sebut "Pelem Kokos",entah dari mana asal muasal sebutan itu, yang jelas Pelem artinya Film. Bioskop akan penuh sesak oleh anak-anak sampai yang datang dari daerah Kampung baru. Makanya 2 adik bungsu kami tidak pernah kami ajak, kami tak sanggup menjaga keselamatan mereka dari berdesak-desakan ketika masuk dan keluar gedung bioakop.

Suatu hari kakak sepupu kami yang bernama Mukiban sedang off...(saya sedih menulis namanya, karena beliau baru saja meninggal dunia akhir tahun 2008, nun jauh di pedalaman Kalimantan, 20 jam perjalanan ketika jenazahnya diantar keBalipapan).
Hari minggu pagi seperti biasa kami sudah siap dengan bedak Mares(tulisannya Marck)belepotan diwajah kami, rencana pergi nonton pelem kokos di bioskop Ria.Karena ada Kak Mukiban, maka Reny dan Nely untuk pertama kalinya bisa pergi nonton bioskop.Dengan menggendong Reny dan menggandeng Nely,kak Mukiban menggiring kami pergi kebioskop.

Hari itu bioskop agak lengang, karena anak-anak dari komplek Pertamina sudah tau bahwa film yang diputar adalah yang sudah berulang kali diputar, yaitu mengenai kisah cinta Donald dan Daisy bebek.
Kami masuk dengan lancar ketika lampu belum dipadamkan.Saya dan kawan-kawan satu asrama sudah mendapat tempat duduk yang nyaman, tidak terlalu dibelakang yang agak bising dengan bunyi proyektor dan tidak juga didepan yang menyilaukan.Kami tidak lagi peduli dimana Kak Mukiban dengan Reny Nely.Film segera diputar anak-anak bersorak-sorai melihat tingkah Donald bebek.Tiba-tiba gelap gulita dan sunyi senyap, rupanya Roll Film putus, ini biasa terjadi.

Didalam gelap ruangan penonton berteriak-teriak protes, jaman dulu kita anak-anak juga sudah berani perotes kalau kenyamanan kami terganggu.Karena masalah tekhnis rupanya tidak dapat segera diatasi. jadi terpaksa lampu bioskop dinyalakan untuk meredam protes.

Dan.. dalam keadaan terang benderang itu pandangan kami tertuju pada 2 sosok kecil di bawah layar bioskop Ria yang begitu lebar, duduk bersila dengan manisnya, dengan sendal jepit masing-masing teronggok tak jauh dari tempat mereka duduk bersila......Ya ampun...2 orang itu adalah Reny dan Nely...mereka tidak mau merubah kebiasan
kebiasaan mereka ketika menonton pelem, bersila tenang-tenang di depan layar.Sampai dirumah Nelly bercerita pada ibu kami "...Mama...tadi kami nonton TV besaaaarrr betul.......!"

Kak Mukiban tertawa terpingkal-pingkal menceritakan bagaimana dia berusaha membujuk adik-adik untuk duduk dikursi yang sudah disediakan.Kami akhirnya maklum, rupanya kebiasaan nonton Tv dirumah orang kaya tetangga kami yang tidak membolehkan kami duduk disofa mereka terbawa kedalam bioskop...kan sama saja....bioskop juga bukan rumah sendiri tidak boleh duduk disofa.

Rabu, 21 Oktober 2009

Nenek Inggris,Pak Amat dan Pabrik bata

Mesin jahit saya putus tali dinamo nya, karena mesin jahit itu bukan merek yang sudah umum dan agennya sudah lama beralih usaha jadi tukang jual kertas dan alat tulis, jadi dia tidak mau bertanggung jawab akan kesulitan saya.

Saya sudah mencari tali dinamo yang kata orang di toko spare part mobil namanya fanbelt, keseluruh toko yang berkepentingan dengan perjahitan tapi tidak ada satupun yang cocok.Saya juga sudah menyuruh anak saya untuk nyari di google atas nama mesin jahit Riccar, tapi tidak jua ditemukan.Berarti tidak semua data bisa didapat di Google itu.
Atas saran tukang jual mesin jahit reguler( maksud saya yang mereknya tidak neko-neko) di kawasan Kebun sayur menuju jalan Kilat, saya di ajurkan mencari pakar mesin jahit bernama Pak Amat.Dia memberi tahu saya ancer-ancer alamatnya dan merasa sangat mengenal daerah itu, saya langsung mengajak suami saya yang setia mengantarkan saya mencari solusi mengenai urusan mesin jahit itu, untuk mencari Pak Amat saja. Saya sudah optimis bakal bisa menjahit lagi. Maklum sebagai orang yang menyandang gen tukang jahit, saya selalu senang berada didekat mesin jahit, walaupun belum pernah saya menghasilkan serupiahpun dari mesin jahit saya.

Gen jahit menjahit saya dapatkan dari ibu saya yang sudah menjahit secara profesional sejak umur 9 tahun, di kampungnya nun jauh di Wakatobi.Maklum beliau piatu sejak usia itu dan ayah beliau hanya seorang petani.beruntung almarhum nenek saya itu seorang tukang jahit dan sekaligus seorang pembuat jarum jahit...saya sebenarnya juga keturunan tukang logam, karena nenek saya dari ayah saya adalah pembuat perhiasan dari uang logam, dan cukup ternama konon pada jamannya di kampungnya tentu saja.Kadang-kadang saya merasa sangat hebat karena terlahir sebagai keturunan tukang logam wanita!

Esoknya dengan sepeda motor saya dan suami menggotong mesin jahit mencari Pak Amat.Mula-mula kami sampai di Balai Gembira, di belakang balai gembira ada mantan pabrik es kemudian ketemu simpang tiga, kekanan bioskop Ria kekiri jembatan. Tapi ketika sampai di jembatan saya bingung harus kemana, padahal dulu saya selalu melewati jembatan itu dari pagi sampai malam. Pagi hari sebelum sekolah saya wajib lewat jembatan untuk beli sarapan roti goreng yang disana namanya Untuk-untuk, diwarung bulik Irum ( kelak setelah ia menjadi ibu tiri dari kawan saya yang asal Manado, bulik Irum berubah menjadi Tante Roum),Siang hari di panas terik sepulang sekolah, bapak saya menyuruh saya minta sepotong es batu di pabrik es yang pemiliknya kebetulan kawan baik bapak saya.Malam hari kalau kami kehabisan lauk untuk makan malam saya akan lewat jembatan itu lagi untuk beli sekaleng sarden di toko ibu Nyoto, diseberang rumah mamaknya Kahar.

" Jadi kita kemana lagi nih, jangan melamun aja" suami saya mengagetkan saya. Saya bingung, bayangan saya setelah jembatan itu, dikanan kantor pabrik bata dan kesanaan sedikit deretan asrama polisi tempat kami tinggal.Di sebelah kiri rumah mantan direktur pabrik bata suami tante Roum.sedangkan didepan jembatan adalah seluas-luasnya areal pabrik bata.Dikiri areal itu berdiri dengan kokoh rumah pembakaran bata.Dibelakang rumah pembakaran bata itu dalam sebuah rumah sangat sederhana tinggalah seorang wanita tua berdarah Portugis dengan seorang anak lelaki dan cucunya yang juga seorang anak laki-laki.Wanita tua yang oleh orang-orang sekitarnya itu dikenal sebagai Nenek Inggris, adalah langganan pijat ibu saya.Nenek Inggris sangat terkenal, kalau saya bilang saya tinggal didekat pabrik bata, orang lantas bertanya " dimananya Nenek Inggris?"

Saya mencoba bertanya pada seorang ibu yang sedang menyuapi anak dalam gendongannya, apakah ia mengenal Nenek Inggris atau keturunannya? dengan menahan tawa dia mengatakan dia tidak pernah mendengar ada orang yang dikenal sebagai anak atau cucu dari Nenek Inggris.Dia bertambah geli ketika saya katakan Nenek inggris masih tinggal di belakang rumah pembakaran bata pada tahun 69 " bu, saya belum lahir waktu itu" katanya.

Akhirnya sebuah pintu terbuka dan didalamnya berserakkan mesin jahit listrik yang kebanyakan sudah butut.Pak Amat rupanya mantan tetangga kami, dia menceritakan pada saya bahwa sudah tidak ada lagi orang dari masalalu disitu
"Pak Mayor Anu meninggal setelah kena santet di Tenggarong dan ibu Mayor Polan sebelum pindah ke Jakarta adalah salah satu staff Kapolda sedangkan Pak Mayor Es terkena stroke masih ada di bekas rumah kami, padahal dia sudah lama pensiun".Jangan heran kalau Pak Amat meyebutkan pangkat-pangkat militer, karena polisi dulu pernah memakai
kepangkatan militer,kalau tidak salah waktu Jendral Yusuf memangku Panglima Angkatan Bersenjata.

Saya senang sekali bisa mengunjungi tempat masa kecil saya walaupun saya kecewa karena ternyata pabrik bata sudah
tidak ada bekasnya lagi. Sebenarnya Pertamina bisa melestarikan pabrik bata itu sebagai tempat tujuan wisata, sayang sekali.Dan sayang sekali juga mesin jahit saya tidak menemui solusi walaupun di tangan Pak Amat.

Selasa, 20 Oktober 2009

Romantis di Lamaru

Sebagai pengantin baru di-era akhir tahun 70an, apalagi kami bukan pasangan yang mapan secara keuangan maka tak banyak pilihan kami untuk menikmati masa bula madu itu.Kami adalah pasangan yang merasa sebagai orang-orang romantis yang selalu tersentuh dengan yang indah-indah, bahkan hanya oleh sebatang bunga liar yang tumbuh diantara rerumputan.
Adik sepupu saya yang tinggal bersama kami (ketika itu kami sudah agak mapan secara keuangan) pernah mengeritik saya " ini rumput..mana ada orang menanam rumput di pot bunga keramik mahal begini" katanya ketika melihat saya menanam serumpun perdu berdaun kecil-kecil warna maroon yang biasa tumbuh di tempat lembab.
Nah kira-kira begitulah difinisi saya mengenai perasaan romantis saya dan suami.

Waktu itu tidak ada taman di kota, jangankan lagi tanaman bunga di median jalan raya.Kalau tidak ada sampah saja di jalan raya, disuatu kawasan, misalnya di jalan minyak sekitar kawasan kantor besar Pertamina atau perumahan petinggi Pertamina di gunung Dubbs, maka suami saya yang "Singapur minded", akan mengatakan... " enak ya disini, seperti di Singapur" saya waktu itu tidak begitu tau mengenai negara tetangga kita itu.

Masa bulan madu kami biasa kami habiskan untuk melihat-lihat kilang minyak dari daerah tangki minyak di puncak gunung Dubbs di malam hari, atau melihat-lihat taman bunga di halaman rumah-rumah pejabat pertamina itu, disore hari.Tapi lama-lama kami mulai jenuh, melihat itu-itu saja setiap hari, bagaimanapun romantisnya kami.

Ada juga kebiasaan kami yang agak melenceng dari sifat-sifat romantis kami yaitu menonton film silat asal Hongkong. pokoknya kalau gedung bioskop Gelora meutar film silat kami pasti nonton.Li Ching, Cen Fei Fei, Hung Pao Pao, Teng Kuang Yung, Ti Lung, David Chiang dan kawan-kawannya yang beterbangan sambil bermain pedang dengan kostumnya yang melambai dan dandanan rambutnya yang penuh ornamen itu tidak bosan-bosan membuat kami terpukau.

Kebetulan ketika itu suami saya bekerja sebagai kontraktor yang melayani sebuah perusahaan Perancis.Lokasi pekerjaan suami saya itu cukup jauh dari kota Balikpapan, yaitu disekitar delta-delta Mahakam, dari Handil sampai daerah lainnya disekitar Kutai lama.Biasanya kalau suami saya itu berangkat ke lokasi kerjanya hari masih pagi buta dan kembali pada saat menjelang magrib.

Suatu saat suami saya berangkat dari rumah agak kesiangan. Rupanya peristiwa itu membuka cakrawala baru baginya.Sepulangnya dari lokasi dengan wajah khasnya ketika sedang terkagum-kagum akan sesuatu, yaitu matanya semakin sipit ( dia keturunan negeri Panda), senyumnya semakin rapat dan geleng-geleng kepalanya, dia berkata begini "Wihh....tidak di sangka...perjalanan dari Lamaru...sampai Samboja kesana lagi....indahhhh.....banyak bunga-bunga...sepanjang jalan..mami harus melihatnya kapan-kapan..." Oh ya .dia memanggil saya "mami" walaupun saat itu kami belum punya anak, juga adalah salah satu indikasi keromantisan kami, ceritanya.

Saya menanti-nanti saat yang di janjikan suami saya untuk membawa saya melihat keindahan alam Lamaru dan sekitarnya.Tapi namanya juga suami saya kesana karena tugas,jadi waktunya tidak bisa dipilih sendiri...jadwalnya sudah tetap, pergi subuh pulang habis magrib.Mana bisa lihat bunga?
Akhirnya kami memutuskan untuk menyiapkan waktu khusus untuk pergi ke Lamaru, mumpung masa bulan madu belum berlalu, kan kami menikah baru beberapa bulan, kami belum menemukan hal-hal yang membuat kami berselisih paham tentang apapun, jadi semua masih indah saja.

Suatu hari libur ditanggal merah, kami bersiap melakukan perjalanan bulan madu kami menuju Lamaru. Saya menyediakan makanan dan minuman yang cukup, juga ember dan air di jerigen buat cuci-cuci.Oh iya kendaraan kami ketika itu adalah sebuah pick-up Datsun... cukup keren bagi kami pada masa itu,saya tak pernah lagi melihat mobil semacam itu setelah lewat tahun 80an.

Benar saja apa yang dikatakan suami saya,pemandangan begitu mankjubkan saya. penduduk yang tinggal disepanjang jalan menanam bunga-bunga...ada kembang sepatu, kembang jengger ayam, kembang daun keriting warna merah kuning hijau, kembang mangkokan, puring warna-warni...dan yang paling keren dan modern adalah anggrek tanah warna ungu,karena hanya ada dirumah-rumah orang yang terlihat agak berada.Selebihnya dihalaman setiap rumah dapat dipastikan ada bahkan banyak kembang tai ayam..kalau orang modern menyebutnya morning glory.
Saat itu kami sangat "satisfied" wah...kata-kata ini juga saya pilih untuk menggambarkan betapa romantisnya kami.

Saat ini kejadian itu sudah berlalu sekian puluh tahun..dan kota Balikpapan sudah di penuhi oleh bunga-bunga beraneka warna di setiap sudutnya....kebersihannyapun sudah hampir setara dengan Singapur atau kota-kota modern dimanapun....Mau romantis tidak perlu jauh-jauh ke Lamaru lagi.

Senin, 19 Oktober 2009

Pasar baru dalam ingatanku

Saya lihat serombongan perempuan berlarian dari dalam bangkai kapal yang teronggok di pantai tidak jauh dari asrama polisi tempat tinggal keluarga kami. Para perempuan itu terlihat dan terdengar berceloteh riang berlarian kearah air, disiang yang panas terik.Saya tertawa-tawa melihat kegembiraan mereka. suara tawa mereka kadang terdengar jelas kadang sayup-sayup terbawa hembusan angin yang berubah arah.Hari itu air laut sedang surut, sehingga bibir laut terlihat jauh sekali dari tampat saya duduk.Kebiasaan saya ketika sudah pulang dari sekolah saya yang cuckup jauh dari rumah kami itu, selesai makan siang ketika keluarga saya beristirahat siang, saya pergi kepantai untuk sekedar bermain pasir atau memetik bunga-bunga berwarna ungu dari tanaman merambat yang menutupi sebagian pasir putih di pantai paling luar yang merupakan halaman tetangga kami di blok D asrama paling belakang.

Tetangga kami di blok D bisa berkebun di halaman rumah mereka, kebanyakan mereka menanam pepaya dan terong. Kebun mereka itu masih lagi dibatasai oleh tumbuhan belukar yang bunganya berwarna ungu dan daunnya bentuk hati, baru kemudian areal pantai. Kami tinggal di blok B sedangkan blok A posisinya menghadap jalan raya, jalan protokol yang menghubungkan lapangan terbang dan pelabuhan laut, serta dalam kota yang terletak di bagian bukan pesisir.

Dibelakang asrama kami itu pantai menghampar berkali-kali lipat luas lapangan sepak bola, ketika air sedang surut besar, kalau air tidak terlalu jauh surutnya, maka akan banyak kolam-kolam kecil di pantai yang dihuni oleh ikan-ikan kecil.Bapak sering mengajak kami mencuci lampit dilaut,lampit adalah tikar dari belahan rotan hasil kerajinan orang-orang kalimantan selatan.Saat itu sajalah saya akan berani menceburkan diri dilaut, sambil menyikat lampit.Kalau tidak ada bapak, saya sama sekali tak berani sampai di air laut, apalagi dalam keadaan surut. Orang-orang dewasa sering menceritakan hal-hal seram yang membuat anak-anak seperti kami tidak berani sampai di laut.

Ketika itu kalau saya bercerita kepada ibu saya tentang perempuan-perempuan dari dalam bangakai kapal, ibu saya selalu menasehati saya supaya jangan melamun dipantai. Ibu saya menganggap saya hanya berhayal, padahal saya melihat dan mendengarnya seperti saya juga melihat kapal yang berlayar, dan orang membawa lanjung di bibir laut, menggali dan memungut kepah." tidak ada perempuan yang mau mandi dipantai tengah ari bolong seperti itu, perempuan takut matahari akan membuat kulit mereka hitam" begitu kata ibu saya.

Onggokan bangkai kapal yang saya ceritakan diatas, lokasinya disebelah kiri pantai kami, sedangkan di sebelah kanan pantai kami adalah belakang pasar yaitu muara sungai Kelandasan kecil, Ketika itu di belakang pasar memang aromanya agak menyengat, karena banyak penduduk yang memanfaatkan pantai sebagai toilet umum.bisa dibayangkan kalau kepiting di daerah itu lebih sehat-sehat dari pada kepiting-keping kurus di pantai kami.

Didepan asrama kami itu lain lagi pemandangannya.Kala itu jalan raya di depan asrama kami hanya satu jalur, dan jarang-jarang kendaraan yang melintas.Jalanan hanya ramai pada waktu-waktu tertentu.misalnya pagi sekali ketika angkutan menuju ke Handil yang membawa orang-orang yang akan ke Samarinda dan sekitarnya.Waktu itu belum ada jalan darat yang menghubungkan Balkpapan dan Samarinda. Jadi mereka yang akan ke Samarinda, harus melewati Handil dan menyambung perjalanan dengan perahu motor menuju Samarinda. Kalau keluarga kami mau ke Samarinda,karena kebetulan nenek kami tinggal di Samarinda, Kami akan di titipkan bapak di kapal patroli( menyalahi prosedur?) dan setelah perjalanan semalaman, paman-paman kami akan menjemput kami di pelabuhan Samarinda. Kadang-kadang saya sekarang berpikir, betapa Bapak begitu mempercayakan kami kepada ABK yang terdiri dari polisi-polisi muda itu, yang ternyata memang terdiri dari orang-orang berbudi luhur, bayangkan kalau ada orang jahat diantara mereka, sementara kami 3 gadis kecil 6 sampai 9 tahun.

Kembali ke Halaman asrama kami. Sepanjang pinggir jalan didepan asrama kami berdiri tegak pohon cemara yang tinggi menjulang dan di bawahnya hamparan rumput hijau juga ditaburi oleh buah cemara kering yang terasa memijat kaki ketika di pijak.Saya juga biasa bergulingan dihamparan rumput untuk merasakan buah cemara kering memijat punggung saya, sambil menonton taksi yang sesekali lewat di jalan raya.Oh ya yang namanya taksi itu adalah sebuah jeep peninggalan perang dunia 2 yang bodynya di ganti dengan kayu dan pintu masuk keluar separuh badan terletak dibelakang mobil.Kelak setelah armada angkutan kota diganti dengan yang sedikit "representatip", masyarakat membedakannya dengan menyebut si Jeep sebagai taksi jamban dan yang pendatang baru adalah taksi kijang. Dan semuanya indah saja dimata dan hati saya....

Sekarang tidak ada lagi pantai landai yang luas di belakang asarama itu. Kata teman anak saya yang tinggal di Blok D saat ini. Air laut ketika pasang dan angin kencang bisa mencapai pintu rumah. Saya sangat kecewa mendengarnya tapi tak ada yang dapat menahan waktu berlalu, semua berubah, ada yang menjadi lebih baik tapi tak jarang yang mengecewakan. Maklumlah kejadian yang saya ceritakan diatas sudah berlalu 45 tahun.